Hambar?
Beberapa hari kemarin, bintil-bintil papila sebagai sensor perasa di lidah saya sempat kehilangan fungsinya secara temporer. Segala jenis makanan yang masuk rasanya hambar.
(ditraktir) makan bakso Cuma kerasa kuah disambelin. Rasa pedas yang kelewatan baru bisa saya rasakan.
(ditraktir) Mie Ayam Cuma kerasa kenyel-kenyel tawar aja.
(ditraktir) Pizza Cuma rasanya kayak roti tawar dikasih saus.
(Hidup saya kok kebanyakan ditraktirnya, ya? Hahhahah)
Makan nasi Padang yang keasinan, ya Cuma kerasa asin aja.
Beragam rasa makanan yang normalnya bisa saya kenali, seperti manis, gurih, asam, asin, pedas, dll, kali kemarin semuanya hampir terasa benar-benar tawar.
Ternyata makan segalanya dengan rasa hambar
atau tawar hampa juga, ya. Iyalah, orang-orang keasyikan menikmati makanan yang
sama lezatnya dengan yang saya makan, tapi saya gak bisa merasakan apapun kecuali hambar.
Lalu, entah angin apa yang sedang membisiki
saya, tiba-tiba saya berpikir:
“Jangan-jangan hidup pun begitu?”
Sesekali atau mungkin sering kita merasa hidup
yang begitu nyaris hambar, tanpa rasa.. tawar! Kemudian
kita beranjak menyalahkan hidup, mempersalahkan keadaan disekitar kehidupan,
mengeluh dan sebagainya.
Jangan-jangan sebetulnya Tuhan sudah menyediakan
kehidupan yang begitu kaya rasa.
Bahagia. Sedih. Senang. Kecewa. Bangga. Suka.
Duka. Penuh harapan. Luka.
Dan rasa-rasa lainnya yang mewakili emosi.
Saya ingat, mas Ingky, seorang wartawan kompas cetak pernah membuka sebuah diskusi yang nyerempet-nyerempet sama intinya dengan catatan ini, kurang lebih dia bilang “Kapan terakhir kita merasa bangga menjadi orang Indonesia? Jangan-jangan kita gak bisa mengenali apa itu rasa bangga. Jiwa kita perlu dilatih untuk bisa merasai semua jenis emosi.” (kalimat utuhnya saya lupa, intinya kurang lebih seperti itu).
Menghubung-hubungkan hal tersebut, saya jadi
mikir lagi, “Jangan-jangan hati kita, sebagai sensor perasa segala emosi yang
sedang tidak berfungsi untuk mengenali berjuta rasa kehidupan tersebut. Jadilah
segalanya hambar, datar, tawar...”
Kita sering terburu-buru menyimpulkan bahwa
hidup yang memang hambar. Padahal siapa
tau bukan salah kehidupan. Siapa tau sebetulnya hidup memiliki rasa. Tak pernah
hambar.
Hanya hati kita, si pengolah dan pengenal emosi,
yang sedang ‘hilang fungsi’ temporer.
Gie bilang : ”Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”
Kalimat yang cukup lugas, yang seolah
menegaskan bahwa pembeda manusia dengan bukan manusia adalah kemampuan
mencintai, mampu iba hati, dan merasai kedukaan.
Ketiganya anggaplah sebagai rasa yang
ekstrim, yang paling mudah untuk dikenali. Jika kita masih belum mampu merasai
ketiganya, bisa jadi kita menuju evolusi menjadi bukan manusia.
Warna, rasa, apapun yang disediakan kehidupan
yang semestinya kita mampu merasai dengan kepekaan hati.
Sudahkah hati kita mampu mencintai?
Iba hati?
Dan merasai kedukaan?
Jika belum, jiwa kita perlu banyak berlatih untuk
mampu merasai :D
Siapa tau ada berjuta rasa kehidupan yang
sayang untuk kita generalisir dengan rasa hambar.
Hidupmu hambar? Yuk, Periksa ‘sensor perasa’nya
dulu :D
Sebaliknya, jika hidup terasa begitu banyak
drama yang menguras emosi, drama-drama yang sungguh membuat hati lelah untuk
merasai sakit, iba, senang, luka, kecewa, bahagia.. perasaan-perasaan labil lainnya
yang cepat timbul-tenggelam, itu bisa jadi tanda bahwa kita masih manusia.
Manusia yang masih peka hatinya yang berhasil mengenali dan menelan banyak rasa
kehidupan. Jikapun merupakan rasa yang
jauh dari harapan, semestinya kita tetap bersyukur, karna masih mampu merasai.
Orang-orang jaman sekarang menyebutnya
sebagai “Baper”, alias bawa perasaan. Jika perasaan dan kemampuan mengenali
rasa kehidupan adalah pembeda antara manusia dengan hampir bukan manusia,
rasanya “Baper” adalah sebuah urgensi. (Boleh setuju, boleh gak setuju, catatan
ini bukan doktrin :p)
Salam Penuh Perasaan,
Diaz-yang lagi sotoy-
(catatan singkat penutup malam, sedikit
kurang panjang dan berisi, hahah. Selamat Pagi :D)
Sumber gambar: http://thenukilanhatiku.tumblr.com/

Post a Comment