Bulan Kehilangan
Di akhir Juli, sebagai awal bagi saya kehilangan salah satu rekan kerja terbaik selama hampir 3 tahun, yang bahkan saya anggap seperti adik sendiri. Bukan kehilangan selama-lamanya memang, tapi bagi saya kehilangan tetaplah kehilangan. Meski kami masih dalam satu bumi yang sama, intensitas pertemuan pasti akan sangat berkurang, bahkan mungkin hanya sesekali. Belum lagi jika mengingat konstribusinya dalam tim kerja yang saja juga tergabung didalamnya. “Chemistry” yang lahir dalam hubungan kerja sungguh tidak mudah dilepas begitu saja, apalagi mengingat saya pun harus mulai membangun “chemistry” dengan rekan kerja yang baru.
Lalu, di awal Agustus, saya kehilangan sepupu saya untuk selama-lamanya. Usianya beranjak 9 bulan. Rayyi kecil, masih terekam bagaimana saya melihat langsung kesakitannya. Dari mulai kejang di rumah, sampai masuk ruang perawatan sdi sebuah RS, sampai kritis dan koma di ruang ICU. Saya melewatkan detik-detik terakhir hidup Dek Rayyi kecil.
(sumber gambar: http://motivaksi.blogspot.com)
Lalu, di awal Agustus, saya kehilangan sepupu saya untuk selama-lamanya. Usianya beranjak 9 bulan. Rayyi kecil, masih terekam bagaimana saya melihat langsung kesakitannya. Dari mulai kejang di rumah, sampai masuk ruang perawatan sdi sebuah RS, sampai kritis dan koma di ruang ICU. Saya melewatkan detik-detik terakhir hidup Dek Rayyi kecil.
Saat menjenguk di ICU, melihat selang-selang medis berebut
andil dalam sistem tubuh Rayyi, tubuh kecil yang sedang koma, sungguh saya gak
tega, tapi saya membatin barangkali ini adalah detik-detik terakhir Rayyi. Jam
besok ICU yang hanya berselang 1 jam
saya maksimalkan untuk menjenguk Rayyi, sesekai menengoknya dari balik kaca
ruang ICU, sesekali keluar pavilion. Sungguh menjadi pemandangan yang sangat
nyeri, membayangkan anak sekecil Rayyi harus menanggung kesakitan yang luar
biasa. Siang itu nafas Rayyi sudah satu-satu, jam besuk sudah selesai, saya
pamit pulang sambil merencakan jam besok sore kembali lagi. Tak lama setelah
sampai rumah, saya mendapat kabar bahwa Dek Rayyi sudah tiada.
Rayyi kecil, tak banyak kenangan saya terhadapnya, hanya
sesekali melihat dia main, tidur, dan sakit, bahkan saya belum pernah
menggendongnya. Tapi, kehilangan tetaplah kehilangan. Mendapat kabar kepergiaan
Rayyi, saya belum menangis. Hey, bukankah ini menjadi takdir terbaik bagi Rayyi
dan keluarganya? Rayyi kecil, putus sudah penderitaan sakitnya, dan keluarga
yang ditinggalkan, khususnya kedua orang tuanya menjadi memiliki tabungan di
hari akhir. Kelak Rayyi akan menjemput kedua orang tuanya di pintu surga.
Tapi begitu melihat jenazah Rayyi sampai di rumahnya, saya
menangis. Air mata luruh begitu saja. Bukan, bukan kehilangan Rayyi yang
membuat saya menangis. Tetapi ketika saya melihat jasad Rayyi yang begitu
tenang, seperti tidur nyenyak sekali. Wajah bayi yang begitu bersih, suci, tampan.
Rayyi tidur. Tidur panjang. Saya menangis mengingat betapa Allah begitu
menyayangi Rayyi, belum juga berbuat dosa, Allah sudah mencukupkan usia Rayyi.
Rayyi, kembali saat dia masih suci. Saya menangis, perasaan iri yang begitu
hebat menguasai saya, membuat air mata saya luruh terus menerus. Saya iri, betapa
Allah begitu menyayangi Rayyi. Sedangkan saya yang kepalang tua, kepalang menimbun
dosa, apa saya bisa menyelesaikan masa hidup di dunia ini dalam keadaan suci
lagi? Seperti Rayyi? Entah berapa lama lagi saya meneruskan usia, mengembala
antara murka dan ridho Allah. Dan entah mana nantinya yang menjadi
kecenderungan. Dalam tangisan, diam-diam saya berdoa, semoga Allah menyayangi
saya seperti rasa sayang-NYA terhadap Rayyi. Dek Rayyi, kebersamaan kita
terlalu sebentar.
Masih diliputi suasana duka, selang beberapa hari, Uwak saya
(kakak perempuan ibu), menamatkan masa hidupnya di dunia. Saya mendapat kabar
duka selagi di kantor, kemudian pamit pulang dan menuju rumah duka. Kepergian Uwak
Iyok (begitu saya memanggilnya), cukup membuat saya syok. Uwak sakit kanker
beberapa bulan terakhir, tubuhnya memang semakin hari semakin kurus.
Ketidaksiapan kehilangan Uwak Iyok, yang sudah seperti ibu kedua bagi saya
(masa kecil saya sering diasuh dengan beliau), membuat saya mempertanyakan
kembali “kenapa secepat ini, Ya Allah?”
Kehilangan orang yang kita menyimpan kebersamaan dengannya,
akan jauh lebih berat. Meski di hari-hari terakhir sebenarnya ‘tanda-tanda’
kepergian beliau sudah tampak. Hanya karna ketidaksiapan kami kehilangan
beliau, kami mengabaikan saja ‘tanda-tanda’ itu. Berharap Allah memberikan
kesempatan sembuh. Uwak meninggal di hari Jumat, yang katanya hari baik, hari
meninggalnya orang-orang sholeh yang disayang Allah. Apalagi yang perlu kami
tangisi? Sedang janji Allah tentang membebaskan siksa kubur bagi sesiapa yang
meninggal di hari Jumat, bukankah menjadi hadiah yang mewah bagi almarhumah?
Belum lagi, Ocha, anak bungsu almarhumah, sepupu sekaligus
teman sepermainan, yang hanya beda usia setahun dengan saya, menyaksikan bahwa
kalimat terakhir yang diucapkan ibunya adalah, “Allah”. Bukankah itu tujuan
hidup semua orang? Fasih mengucapkan kalimat Allah sebagai penutup hidup?
Meski di hari baik, di akhir yang baik, tapi kehilangan
tetap saja menjadi kehilangan. Kepergiaan almarhumah pun begitu cepat
prosesnya, hari Kamis, saya sampai Depok lebih cepat dan entah bisikan mana
yang membuat saya langsung ke rumah almarhum untuk menjenguk sampai lepas
magrib. Dini hari, almarhum drop dan dibawah ke RS, paginya, sudah pergi untuk
selama-lamanya. Lagi-lagi saya melewatkan detik-detik terakhir hidup
almarhumah. Dalam perjalanan ke rumah duka, saya masih setengah tidak percaya.
Begitu sampai, melihat jenazah sudah dikafankan, saya menangis, selewatan memori
masa kecil yang banyak saya habiskan dengan almarhum tumpah ruah di benak saya.
Betapa beliau adalah orang yang baik semasa hidupnya. Saya terlambat dalam prosesi memandikan
jenazah, tapi saya beruntung, belum terlambat dalam menyolatkan jenazah.
Di mushalla yang sama, dalam jangka waktu yang kurang dari
seminggu, saya menyolatkan 2 jenazah dari keluarga dekat saya. Minggu yang
begitu mengingatkan pada kesementaraan hidup, pada tujuan hidup yang kadangkala
sering kita lewatkan: mati dalam keadaaan baik, di tempat yang baik, meninggalkan
kenangan yang baik dan membawa sebaik-baiknya amal.
Akhir Agustus, saya pun kembali kehilangan salah satu rekan
kerja dalam satu tim, memang bukan kehilangan yang selama-lamanya. Bertubi-tubi
rasa kehilangan di bulan lalu, telah cukup membuat saya mematenkan Agustus
sebagai bulan kehilangan.
Kehilangan mengajarkan kita tentang konsep kesementaraan. Manusia datang, singgah sementara, pergi selamanya. Saat bertemu dengan orang-orang baru, sebenarnya kita sekaligus menabung nasib untuk berpisah dengannya. Kehilangan merupakan konstribusi dari waktu yang telah menyelesaikan fungsinya.
(sumber gambar: http://motivaksi.blogspot.com)

Post a Comment